blog

Promosikan Seni Budaya, Kemendikbudristek Audiensi dengan Pemda Raja Ampat

DiskominfoR4, Waisai - Kementerian  Pendidikan, Kebudayaan, Riset Dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Dirjen Kebudayaan yang diwakilkan oleh Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi melakukan pertemuan bersama Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati, SE (AFU) terkait kebudayaan Raja Ampat di Ruang Rapat Bupati Raja Ampat, Senin (13/2/2023).

Kunjungan dan pertemuan tersebut didasarkan oleh Raja Ampat yang di anggap kurang dalam mempromosikan atau mempertunjukan Seni dan Budaya.

“Raja Ampat bukan hanya memiliki kekayaan alam namun juga kaya akan seni dan budaya yang bisa dimanfaatkan untuk diperkenalkan bagi wisatawan yang datang di Raja Ampat,” ungkap Sjamsul.

Merespon hal tersebut, AFU menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 cukup mempengaruhi kegiatan- kegiatan seni budaya yang biasa di selenggarakan di Raja Ampat. Di mana COVID-19 berdampak serius bagi industry pariwisata di Raja Ampat.

“Dampak COVID-19 cukup mengguncang pariwisata Raja Ampat. Saya selaku pimpinan daerah akan terus mengupayakan agar festival dan kegiatan Seni Budaya terus berjalan,” ungkap AFU.

Hadir juga dalam pertemuan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Raja Ampat Joharia Saifudin SE,MM dan Asisten III Sekda Raja Ampat Ferdinand Rumsowek, A. M.Kes.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Raja Ampat, Joharia Saifudin menjelaskan Festival Suling Tambur rutin diadakan tiap tahun di Kabupaten Bahari sebagai ajang promosi budaya.

Festival suling tambur adalah agenda rutin tahunan Raja Ampat sebagai ajang promosi pariwisata dan mengangkat nilai-nilaiseni dan budaya masyarakat Raja Ampat.

"Tak hanya dalam festival, Grup Suling Tambur yang sudah menjamur di tiap wilayah Raja Ampat biasa digunakan untuk menyambut tamu yang dating,” jelas Joharia.

Bupati Raja Ampat yang biasa disapa, AFU berharap Kemendikbudristek dapat hadir dalam Festival Suling Tambur yang akan diadakan tahun ini agar bisa menyaksikan secara langsung Seni dan Budaya Raja Ampat.

Ia harap bapak dan teman-teman Kemendikbudristek berkesempatan dan berkenan untuk hadir dalam festival suling tambur yang akan diadakan tahun ini, agar dapat melihat dan menikmati secara langsung bagaimana tarian dan alunan music yang diciptakan dari anak negeri Raja Ampat.

"Tidak hanya musik dan tarian namun juga pakaian yang digunakan sebagai lambang identitas dari 24 distrik peserta festival,” tambah AFU.

Tak hanya tarian, musik, seni, budaya namun juga bahasa tradisonal masyarakat Raja Ampat yang beragam.

“Ada bahasa Ma’ya, Amber (Pulau Waigeo), As, Blatant, Bias, Biga, gebe, Kete, Legenyem, Maden, Matbat, mio, Tepin, Wauyai, dan Misool,” kata AFU.

Dengan demikian Raja Ampat dapat dikatakan sangat kaya dalam Seni dan Budaya namun Pandemi COVID-19 cukup membuat Kabupaten Bahari tersebut sedikit tersendat dalam mempromosikan kekayaanya. (MC.Kab.RajaAmpat)

Bagikan Berita Ini :